
Catur Gatra tunggal: Sepasang Pohon Beringin di Halaman Masjid

SEPASANG POHON BERINGIN
Ā
Seperti dalam artikel Catur Gatra Tunggal yang menyebutkan Masjid Gedhe Mataram Kotagede digunakan sebagai sarana raja mendidik rakyat untuk mengenal Tuhan Allah Sang Pencipta kehidupan ini. Masjid sebagai pusat spiritual dan kegiatan keagamaan masyarakat Kotagede dalam simfoni tata ruang Catur Gatra Tunggal. Dalam artikel sebelumnya kita bahas mengenai Keraton dan Alun-alaun yang sudah berubah menjadi permukiman penduduk, berbeda dengan Masjid dan Pasar yang sampai saat ini secara lokasi dan fungsi masih mempunyai peran yang sama, hal ini menjadi bukti kokohnya peradaban Mataram Islam di Kotagede.
Ā
Lokasi Masjid Gede Mataram yang terletak di dekat Keraton menjadi penyeimbang bagi Panembahan Senopati sebagai pemimpin wilayah Kotagede agar selalu ingat akan kekuatan di atas kekuasan pemimpin dunia yaitu kekuatan Allah Tuhan Pencipta kehidupan di alam dunia ini. Sebagai pemimpin Mataram Islam yang bergelar Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatulah Tanah Jawa, gelar itu mempunyai arti Panembahan Senopati sebagai pemimpin yang dijunjung tinggi, sebagai panglima perang di medan laga, pemimpin dalam bidang keagamaan, pemimpin umat Islam di tanah Jawa yang selalu mendasarkan kebijakannya pada nilai-nilai agama. Dalam pelaksanaan penyebaran agama Islam inilah masjid menjadi landasan syiar, masjid menjadi tempat awal mula penyebaran dan gagasan penyebaran Islam digagas, dimana penyebaran Islam berlangsung dengan baik merasuk ke sendi-sendi masyarakat Jawa.
Sebelum kita membahas Masjid Gedhe Mataram, baiklah kita bicarakan dahulu halaman depan Masjid Gedhe Mataram di Kotagede. Jika berjalan dari pasar Kotagede ke selatan maka di sebelah barat jalan Masjid Besar akan terlihat pagar dan bangunan gapura paduraksa, gapura beratap sebagai penghubung antar ruang. Gapura Paduraksa dan pagar tembok mengelilingi masjid yang dibangun dari bata merah tanpa ditutup semen sehingga terlihat susunan merahnya batu bata dikombinasi ukiran batu putih tersebar di sepanjang tembok dengan indahnya.
Jika kita memasuki halaman masjid menuju ke Masjid Gede Mataram maka ada jalan membawa kita ke Gapura Padurakasa yang di kiri-kanan berjajar dengan rapi perumahan abdi dalem keraton Surakarta di utara Gapura Paduraksa dan perumahan abdi dalem keraton Yogyakarta di selatan Gapura Paduraksa. Dahulu kala di kanan kiri Gapura Paduraksa itu berdiri dengan kokoh sepasang pohon beringin. Yang disebelah utara disebut Ringin Sepuh (tua) putri dirawat oleh Kasunanan Surakarta, yang selatan disebut Ringin Anom (muda) dibawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Sepasang beringin ini seolah patung raksasa Gupala yang menjaga kesakralan Gapura Paduraksa. Di rimbunnya pohon beringin itu hidup sekumpulan burung-burung yang jika berkicau maka akan menambah asri suasana saat kita memasuki Masjid Gedhe Mataram dari arah timur Gerbang Paduraksa.
Namun sayangnya pada tahun 1990 Beringin Sepuh yang di sebelah utara Gapura PaduraksaĀ ambruk dan mati total dan sampai hari ini saat artikel ini ditulis September 2026 belum ada penggantinya. Menurut cerita legenda disebutkan bahwa pohon Beringin Sepuh ini ditanam oleh Sunan Kalijaga dan dirawat oleh Pangeran Jayaprana. Pohon Beringin ini oleh Sunan Kalijaga dijadikan sebagai patokan lokasi bakal pendirian kerajaan Mataram Islam yang akan dibangun olehh Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya yang berangkat dari Pajang ke hutan Mentaok di Kotagede. Sedangkan beringin yang satunya adalah pohon Beringin Anom di selatan Gapura Paduraksa, beringin yang dipercaya lebih muda itu patah sebagian dahannya pada tahun 2022. Dan pada awal tahun 2026 ini kembali sisa batang pohon Beringin Anom itu kembali roboh. Bagaimanapun juga kami warga Kotagede berharap sepasang pohon Beringin di depan Gapura Paduraksa itu bisa utuh kembali.

BPKCB (Badan Pengelola Kawasan Cagar Budaya) Kotagede pada hari Ahad 17 April 2026 menyelenggarakan Focus Group Discussion dengan judul: Beringin Sepuh, Di Antara Mitos, Tradisi dan Ekologi. FGD diselenggarakan di Balai Kalurahan Jagalan dengan nara sumber Bp. Achmad Charris Zubair tokoh budayawan Kotagede, Yayan Hadiyan S.Hut, M.Sc, dan IL.G. Nurtjahyaningsih Phd kedua nara sumber terakhir ini dari BRIN dan ahli dalam pelestarian tanaman langka. Salah satu kesimpulan dari FGD itu adalah menekankan pentingnya keberadaan sepasang pohon beringin di depan Masjid Gedhe Mataram sebagai simbol eksistensi Mataram Islam dan semestinya dicari jalan keluar untuk melestarikannya. Diantaranya adalah mempertahankan luasan lahan di sekitar pohon Beringin yang tidak tertutup conblock yang mencukupi luasannya untuk menangkap air hujan sehingga kebutuhan air bagi pohon Beringin tidak berkurang. Demikian pula pembuangan limbah MCK sebaiknya tidak mencapai akar pohon Beringin.