
Benarkah Budaya Kerajinan Perak Kotagede Dimulai Sejak Jaman Panembahan Senopati?

Seperti sudah menjadi pemahaman umum jika budaya kerajinan perak Kotagede dimulai sejak jaman Mataram Islam saat pemerintahan Panembahan Senopati pada abad XVI Masehi, apakah hal itu sesuai fakta ataukah hanya ceritera yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah? Sebagai orang yang dilahirkan di Kotagede dan besar di Kotagede serta hidup dari usaha kerajinan perak, tentu hal ini sangat menggoda hati dan pikiran untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Marilah kita coba telaah secara detail dan berusaha mencari bukti yang bisa kita ketemukan.
Tentu saja apa yang saya tulisan ini bukan jaminan kebenaran, tapi setidaknya tulisan ini sudah berusaha mengumpulkan data-data yang mendukung pernyataan yang ditulis. Penelitian dari pihak manapun akan sangat ditunggu untuk mengetahui kebenaran sejarah kerajinan perak Kotagede yang dikatakan dimulai sejak jaman Mataram Islam dibawah pemerintahan Panembahan Senopati apada abad XVI Masehi.
Perak sebagai logam tidak akan mengalami pelapukan atau kehancuran karena pengaruh cuaca, maka jika kerajinan perak Kotagede sudah ada sejak jaman Senopati pada abad XVI maka pada abad XXI ini semestinya kita masih bisa menemukan jejak peradaban kerajinan perak Kotagede yang dibikin pada abad XVI. Jika kita berkunjung ke luar negeri maka masih banyak tersimpan di museum negara tetangga karya perak yang dibikin pada abad XVI, atau bahkan dibikin sebelum abad XVI. Kenyataanya di museum-museum Indonesia tidak kita jumpai koleksi perak yang dibikin pada jaman Senopati, padahal banyak diketemukan koleksi perhiasan atau peralatan emas yang dibikin masa Majapahit sekitar abad XII.
Kenapa hal itu terjadi? Apakah pada jaman Senopati di Kotagede belum ada budaya kerajinan perak?
Ada seorang mahasiswa yang pernah mengadakan penelitian di Salim Silver menceriterakan bahwa dia pernah bertemu dan bertanya kepada budayawan Yogyakarta yaitu Romo Suryanto Sastroatmodjo pengasuh rubrik budaya Bokor Kencana di harian Bernas Yogyakarta. Romo Sur menceriterakan bahwa sebenarnya sudah ada budaya kerajinan perak di jaman Panembahan Senopati.
Kenapa saat ini sangat sulit kita ketemukan peninggalan karya seni perak yang dibuat saat masa pemerintahan Panembahan Senopati? Jawabnya adalah pada masa itu tambang perak belum banyak digali sehingga perak sebagai bahan baku kerajinan jumlahnya sangat kurang. Logam perak dan emas sebagai bahan kerajinan memiliki karakter bisa direcycle (diolah ulang dijadikan karya baru). Dari karakter logam yang bisa direcycle inilah maka jika suatu karya kerajinan perak di jaman Panembahan Senopati rusak maka dilebur lagi dijadikan bahan perak untuk dibikin karya dengan bentuk yang baru. Peleburan dan pembuatan karya kerajinan perak baru dari material hasil peleburan karya kerajinan perak lama inilah maka menjadikan tidak dapat dilacaknya design karya kerajinan lama sebelumnya.
Peleburan ulang dan pembuatan karya kerajinan perak baru dari peleburan karya kerajinan perak lama itu terus berulang pada jaman Mataram Islam pemerintahan Sultan Agung, Amangkurat dan seterusnya sampai didapatkannya persediaan bahan perak untuk membuat kerajinan perak. Jika persediaan bahan perak mencukupi maka pembuatan kerajinan baru tidak perlu melebur karya kerajinan lama.
Dalam cerita masa kini proses peleburan karya kerajinan perak lama untuk dijual sebagai perak murni (acir) atau untuk produksi kerajinan perak design baru itu terulang dalam beberapa waktu belakangan ini. Bisa dicatat terjadi peleburan karya kerajinan perak Kotagede pada tahun 1998, tahun 2008 dan tahun 2020 serta terakhir tahun 2025 tahun kemarin.