
Bukti Karya Kerajinan Perak Kotagede Tertua

Seperti yang kami tulis di artikel halaman ini, yang mempertanyakan bukti nyata karya perak Kotagede yang ceriteranya dimulai pada abad XVI tapi sampai saat ini belum ditemukannya bukti fisik karya kerajinan perak Kotagede abad XVI, maka ada pertanyaan berikutnya: Bukti benda kerajinan perak karya perajin Kotagede tertua itu kira-kira ada tidak ya?
Sejauh yang pernah penulis lihat adalah ada beberapa hasil kerajinan perak tua dari kriyawan Kotagede yang di produksi pada era Sri Sultan Hamengkubuwono VI. Bukti pertama karya perak yang wujudnya baki perak yang di bikin Sri Sultan Hamengkubuwono VI dalam rangka ulang tahunnya pada tahun 1875.

Bukti ke dua adalah sebuah karya perak yang wujudnya kecohan dengan ukuran lingkaran atas 16 cm dan tinggi 17 cm berat 430 gram. Kecohan adalah wadah penampung sisa raja atau ratu saat mereka melakukan ritual menginang. Kecohan ini tidak ada tanda yang secara pasti merujuk jika kecohan ini di bikin saat era Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Cuma jika dicocokan dengan foto-foto yang beredar di internet saat Sri Sultan Hamengkubuwono VII duduk di kursi singgasana di dekatnya ada meja di mana kecohan ini diletakkan, maka kecohan ini memiliki kemiripan. Di samping itu kecohan ini ditemukan dengan bukti ke tiga yang memiliki catatan nyata.

Bukti ke tiga adalah sepasang alat perak yang berwujud tatakan bersegi 4 semacam baki kecil ukuran 24,5 cm x 24,5 cm 435 gram dan satu mangkuk perak diameter 18 cm tinggi 9 cm berat 393 gram.

Di bawah tatakan atau baki bersegi 4 ini terdapat inskripsi (tulisan yang permanen pada suatu benda, seperti batu, logam, atau kayu, yang berfungsi sebagai catatan sejarah, peringatan, atau informasi penting). Inskripsi berhuruf Jawa:

Inskripsi di bawah baki perak itu dalam huruf Jawa jika ditulis dalam huruf Latin: Bandara Raden Ajeng Murjilin. Siapakah Bandara Raden Ajeng Murjilin? Jika kita telusuri dalam halaman ini. Bendara Raden Ayu Murjilin adalah puteri dari Sultan Hamengkubuwono VII dari salah satu garwo selir Bendara Raden Ayu Pujaretna.
Ketiga benda kerajinan perak ini diperoleh dari sumber yang sama, dengan demikian bisa disimpulkan bahwa ketiga karya kerajinan perak ini kemungkinan besar memiliki tahun yang sama dalam pembuatannya, yaitu masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII tahun 1877 sampai dengan 1921, masa terpanjang kekuasaan Sultan yang pernah berkuasa di keraton Yogyakarta. Pada masa ini terkenal sebagai masa kemakmuran dan modernisasi Yogyakarta.
Pada masa ini secara ekonomi kasultanan Yogyakarta mengalami masa puncak kemakmuran dengan adanya pembangunan 17 pabrik gula, jaringan kereta api, pendirian sekolah-sekolah modern dan lain lainnya. Bahkan pada masa ini Sultan dikenal sebagai Sultan Sugih (kaya) atau Sultan Behi karena hasil keuntungan pabrik gula. Dari keuntungan pabrik gula ini dilakukan perbaikan kraton dan rakyat yang hasilnya adalah kemajuan bagi Yogyakarta menuju modernisasi.
Periode Sultan Hamengkubowono VII ini merupakan masa transisi menuju modernisasi dengan dihapusnya tanam paksa (cultuurstelsel) diganti dengan sistim ekonomi liberal, dan juga kesadaran Sultan Hamengkubuwono VII terhadap pendidikan keluarganya sehingga banyak mengirim putra-putranya untuk belajar di Belanda. Dari pemikiran maju inilah Yogyakarta semakin mengalami kemajuan yang berarti dari sisi budaya dan ekonomi. Pada masa inilah pembangunan renovasi Tugu Golong Gilig 1889, juga pembangunan pesanggrahan Ambarukmo.
Dari sisi seni budaya pada masa inilah munculnya Tari Bedaya Sumreg, Srimpi Dhendhang Sumbawa, dan Bedaya Lala, serta pembuatan keris tangguh (masa) kaping piton. Jadi sangat rasional sekali jika perkembangan kerajinan perak Kotagede juga berkembang pada saat pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII, dan bukti-bukti karya kerajinan perak Kotagede itu masih bisa diketemukan walau semakin sulit akhir-akhir ini.