
Kotagede Bukan Hanya Tentang Budaya Perak 02

Keraton
Dalam Catur Gatra Tunggal unsur Keraton di jaman pemerintahan Panembahan Senopati pada abad 16, setelah 400 tahun pada saat ini sudah berubah menjadi areal permukiman. Dari sisi toponim permukiman ini dinamakan kampung Dalem yang merujuk pada bagian dalam keraton Panembahan Senopati. Situs yang masih bisa dilihat di kampung Dalem ini adalah situs singgasana Panembahan Senopati. Dalam situs ini terdapat benda cagar budaya yang terdiri dari Batu Gilang, Batu Gatheng, Batu Genthong. Saat ini ketiga benda cagar budaya ini disimpan di dalam suatu bangunan rumah kecil, jika ingin masuk kedalam bisa menghubungi juru kunci abdi dalem yang merawat dan tinggal di timur bangunan yang menyimpan 3 benda cagar budaya ini.

Keterangan Foto: Foto di sebelah kiri hitam putih adalah foto Batu Gilang, Batu Gatheng, Batu Genthong pada tahun 1896. Foto ini koleksi KITLV - Koninklijk Instituut voor Taal , Land, en Volkenkunde (Lembaga Kerajaan Belanda untuk Ilmu Bahasa, Negara, dan Antropologi). Di sini terlihat bahwa ke 3 benda cagar budaya itu ada di luar ruangan. Batu Gilang diberi atap, tetapi Batu Genthong dan Batu Gatheng ada di luar bangunan beratap. Foto berwarna di sebelah kanan diambil oleh penulis pada tahun 2026 memperlihatkan ketiga benda cagar budaya ini disimpan di sebuah bangunan kecil dan dikunci demi keselamatan dari tangan jahil.
Pertama Batu Gilang adalah sebuah batu andesit hitam berbentuk persegi ukuran 200cm x 200cm dengan tinggi sekitar 20cm dan diberi fondasi alas sekitar 30cm. Disebut Batu Gilang karena permukaan batu andesit ini halus mengkilat, batu ini diperkirakan sebagai tempat singgasana Panembahan Senopati. Pada sisi timur pada Batu Gilang ini terdapat lekukan yang menurut ceriteranya adalah bekas benturan kepala Ki Ageng Mangir saat menghaturkan penghormatan kepada Panembahan Senopati. Jika benar bahwa Batu Gilang ini adalah lokasi singgasana Panembahan Senopati maka bisa dikatakan bahwa lokasi batu Gilang ini adalah pusat pemerintahan kerajaan Mataram jaman Panembahan Senopati.

Secara kronologis daerah Mangir adalah tanah perdikan dari bekas kerajaan Mojopahit yang telah terlebih dahulu berkembang sebelum kerajaan Mataram dibuka di hutan Mentaok. Jika Mataram menyerang langsung ke Mangir tentu kalah dari sisi kekuatan prajuritnya. Untuk itu diaturlah strategi untuk mengalahkan Ki Ageng mangir dengan cara halus. Atas nasehat Ki Juru Mertani, Panembahan Senopati mengirim anak perempuannya Roro Pembayun menyamar sebagai penari ledek dan berkelana menjajakan hiburan ledek sampai ke daerah Mangir. Saat menanggap Roro Pembayun menari ledek Ki Ageng Mangir jatuh hati dan menikahinya. Setelah Pembayun hamil maka Roro Pembayun berterus terang kepada Ki Ageng Mangir bahwa dia adalah puteri Panembahan Senopati.
Dengan jiwa kesatria Ki Ageng mangir mengantar Roro Pembayun pulang menghadap ayahandanya. Saat menghadap menghaturkan sembah bhakti seorang menantu kepada mertuanya itulah Panembahan Senopati membenturkan kepala Ki Ageng mangir pada Batu Gilang singgasana Panembahan Senopati. Sebuah cerita tragis terbunuhnya seorang menantu demi perluasan kekuasaan Mataram. Semoga kisah perluasan kekuasaan dengan mengorbankan seorang menantu berhenti sampai di sini dan tidak terulang dimanapun juga di muka bumi ini.
Kedua adalah 3 Batu Gatheng - Gatheng adalah sejenis permainan menggunakan benda berbentuk bulat yang dilempar-lempar. Dari sisi kisah mithologi 3 batu ini adalah batu yang digunakan untuk bermain gatheng oleh Raden Rangga anak Panembahan Senopati yang memiliki kesaktian luar biasa bakat alam sejak usia belia. Pada salah satu Batu Gatheng berwarna kekuningan ini terdapat beberapa lobang yang diinterpretasi sebagai bekas lobang karena jari-jari Raden Rangga yang menusuki batu itu. Fakta sebenarnya menurut ahli sejarah yaitu Prof. DR. Inajati Adrisijanti seorang Guru Besar Arkeologi dan pakar sejarah Islam di Nusantara dari Universitas Gadjah Mada mengatakan bahwa ketiga batu ini merupakan peluru meriam yang digunakan pada jaman Sultan Agung.

Apabila diamati dengan seksama maka batu andesit segi empat yang dipakai sebagai penyangga batu Gatheng ini adalah sebuah batu yoni yang kemungkinan besar sudah ada sejak jaman Mataram Hindu.
Ketiga adalah Batu Genthong yang ujudnya batu andesit diameter kurang lebih 60cm an dengan lobang di tengah yang bisa untuk menampung air. Menurut tutur yang berkembang di masyarakat Kotagede batu ini adalah padasan atau batu untuk menampung air guna keperluan wudhu yang digunakan oleh Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Giring sebelum melakukan sholat pada jaman Mataram. Dalam mithos yang beredar dikisahkan bahwa hanya dengan mengusap genthong ini maka muncul air di dalam Batu Genthong ini untuk keperluan bersuci.

Di sebelah barat laut situs Watu Gilang terletak makam Hastorengga. Makam ini adalah makam keluarga Sultan Hamengku Buwono yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1934. Menurut kisah yang beredar di masyarakat Kotagede, areal makam Hastorengga ini dulunya diperkirakan tempat peraduan Panembahan Senopati, hal ini bisa diterima akal karena lokasi makam Hastorengga ini berdekatan dengan lokasi batu gilang yang merupakan singgasana Panembahan Senopati.
Menurut cerita yang beredar areal Hastorengga ini dulunya terkenal dengan sebutan siti sanggar, siti berarti tanah dan sanggar kurang lebih mempunyai makna menakutkan. Ada ceritera bahwa di areal Hastorengga ini tidak pernah ada masyarakat yang berani menempati karena jika ada yang berani mendirikan tumah di areal ini maka hampir semua keluarga yang tinggal di situ akan mati semua. Dari ketidak beranian masyarakat menempati areal inilah maka Sultan Hamengku Buwono VIII merubah siti sangar ini menjadi makam Hastorengga.

Penulis memperoleh foto ini dari komunikasi disebuah WAG yang menyatakan bahwa foto ini merupakan sebuah foto sisa-sisa fondasi bangunan rumah di areal kampung Dalem Kotagede yang disebut Siti Sangar yang di kemudian hari menjadi makam Hastorenggo, kemungkinan besar foto ini adalah foto fondasi keraton Mataram Islam jaman Panembahan Senopati. Pada foto inset di kanan atas terlihat detil hiasan batu bata indah yang mengelilingi fondasi bangunan itu. Jika makam Hastorenggo dibangun pada 1934 maka foto ini tentu saja diambil sebelum waktu itu.

Foto gerbang makam Hastorenggo saat ini .