
Alun-alun
Unsur alun-alun yang di jaman Panembahan Senopati merupakan lapangan luas tempat berkumpulnya warga dan juga tempat keraton Mataram memberikan pengumuman kepada penduduknya pada abad 16, atau alun-alun bisa menjadi lokasi dimana rakyat melakukan pepe (berjemur matahari) untuk bertemu dengan raja demi menyampaikan permasalahan yang dihadapi. Alun-alun yang dulu pada abad 16 berujud lapangan luas, saat ini sudah berubah menjadi permukiman yang padat. Sesuai toponimnya dinamakan kampung Alun-alun.
Di kampung Alun-alun ini terdapat sebuah fenomena sosial yang sangat khusus ada di Kotagede namanya gang rukunan atau jalan rukunan, oleh tim peneliti Arsitektur UGM pada tahun 1986 jalan rukunan ini dikenalkan sebagai Between Two Gates – atau disingkat sebagai BTG. BTG ini merupakan karakter permukiman penting di Kotagede, BTG merupakan sederet 9 rumah aseli Kotagede yang dibangun berjejer dan diujung deretan rumah ini terdapat 2 pintu gerbang yang merupakan akses keluar masuk 9 kluster rumah ini. Masing-masing rumah mempunyai halaman di tengah yang dijadikan jalan penghubung antar rumah. Secara ideal rumah Jawa terdiri dari 2 bagian, bangunan utama di bagian utara adalah dalem dan bangunan pendhapa yang bersifat terbuka terletak dibagian selatan. Diantara dalem dan pendhapa inilah terdapat ruang terbuka yang disebut longkangan. Para menghuni 9 rumah mempersilahkan tetangganya bahkan tetangga di luar 9 rumah tersebut untuk melewati longkangan atau halaman rumahnya.

Secara sosial dan budaya BTG atau jalan rukunan mempunyai nilai sosial dan budaya yang tinggi. Di jalan rukunan inilah nilai-nilai kerukunan, kegotong-royongan, tepa-selira atau toleransi, berbagi ruang dengan tetangga dan orang lain disemaikan. Dalam kalimat lain jalan rukunan ini bisa dikatakan sebagai lahan pribadi yang dibagikan untuk kebutuhan umum. Bisa pula dikatakan jalan rukunan adalah warisan tata ruang yang memperlihatkan filosofi hidup orang Jawa yang suka berbagi dan menolong sesama sehingga tercipta masyarakat yang ayem tentrem damai di lingkungannya.
Bagi orang bukan pemilik 9 rumah di BTG yang melewati jalan rukunan maka akan merasakan kebaikan hati pemilik rumah yang mempersilahkannya untuk melewati jalan rukunan itu. Dalam sebuah masyarakat dimana seseorang sering mendapat kebaikan dan kemurahan hati tetangganya maka itu akan mendidik jiwanya untuk memperbaiki budi pekertinya. Artinya sebuah nilai kebaikan selalu tertanam kedalam jiwa orang yang melewati jalan rukunan. Bila orang yang melintas jalan rukunan bertemu dengan pemilik rumah tentu akan tercipta tegur sapa, komunikasi yang terjadi antar tetangga inilah yang menciptakan keakraban hubungan sosial di masyarakat. Keakraban adalah sesuatu kondisi yang hilang di kota besar, dan itu tidak akan terjadi di lingkungan jalan rukunan. Jalan rukunan bisa dikatakan sebagai kesepakatan sosial dalam mengatur ruang pemukiman untuk melestarikan nilai-niai hidup kerukunan, keakraban, toleransi dan berbagi dengan sesama.
Dengan demikian, jalan rukunan secara tidak langsung mendidik perilaku manusia. Mendidik untuk memasuki ruang privat orang lain dengan hormat, berjalan dengan sopan, jika bertemu dengan orang lain untuk menyapa, dan terakhir jika meninggalkan tempat tanpa menganggu. Nilai seperti saling menyapa dan sopan santun inilah yang tumbuh melalui keberadaan jalan rukunan dan kemudian memperkuat suasana kerukunan masyarakat di dalam kawasan tersebut. Filosofi “memiliki tetapi mau berbagi” saya pikir inilah filosofi terdalam Jalan Rukunan. Dalam konsep kepemilikan modern, tanah pribadi sering dipandang sebagai wilayah yang harus dipisahkan secara tegas dari ruang orang lain.
Namun dalam Jalan Rukunan, masyarakat menunjukkan sebuah cara pandang yang berbeda: “Ini tanah saya, tetapi sebagian manfaatnya dapat kita gunakan bersama.” Pemilik tidak kehilangan kepemilikannya, tetapi ia bersedia berbagi fungsi. Tetangga tidak memiliki tanah tersebut, dia bisa menggunakan jalan itu, dengan sikap menghormati hak pemiliknya.
Dari interaksi tetangga yang melewati jalan rukunan itu terbentuk sebuah hubungan sosial yang didasarkan pada kepercayaan, karena itu Jalan Rukunan dapat diinterpretasi sebagai bentuk nyata dari falsafah Jawa: rukun agawe santosa — kerukunan membawa ketenteraman dan kekuatan. Dalam kalimat singkat bisa jalan rukunan merupakan sebuah gambaran sikap gotong royong yang diwujudkan dalam memilih arsitektur rumah kediaman bagi masyarakat Kotagede.
Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, Jalan Rukunan menawarkan pelajaran yang sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa sebuah lingkungan yang baik tidak selalu membutuhkan ruang yang luas. Yang lebih penting adalah adanya kepercayaan, kesediaan berbagi, penghormatan terhadap orang lain, dan kesadaran bahwa kita hidup berdampingan. Jalan Rukunan dengan demikian bukan hanya peninggalan arsitektur Kotagede.
Jalan Rukunan adalah peninggalan cara berpikir. Sebuah cara berpikir yang mengatakan: bahwa kepemilikan tidak harus berarti menutup diri, bahwa batas tidak harus berarti memisahkan, dan bahwa ruang pribadi dapat menjadi jembatan menuju kehidupan bersama. Itulah sebabnya Jalan Rukunan layak dipandang sebagai salah satu warisan budaya Kotagede yang paling bernilai. Karena yang diwariskannya bukan hanya sebuah jalan. Yang diwariskan adalah sebuah cara hidup: hidup berdampingan, saling menghormati, berbagi, dan menjaga kerukunan.
Ada satu hal penting yang perlu diceriterakan bukti yang tersedia tidak menunjukkan bahwa Jalan Rukunan berasal langsung dari abad ke-16 masa Mataram awal. Yang dapat dibuktikan adalah tradisi tata ruangnya berkaitan dengan permukiman tradisional Kotagede, sedangkan kompleks Between Two Gates yang sekarang dikenal diperkirakan berkembang setelah Perang Diponegoro, dengan bukti angka tahun Jawa 1840 pada salah satu gerbang di bagian timur.

Jalan rukunan merupakan daerah tujuan wisata budaya Kotagede yang sangat menarik, tapi perkenanankan penulis di sini untuk menyarankan kepada pembaca untuk memperhatikan sopan santun jika ingin berkunjung ke jalan rukunan. Jalan rukunan adalah areal privat maka dari itu pakailah unggah-ungguh sopan-santun dalam berkunjung. Jangan sampai terulang penghuni jalan rukunan merasa terganggu karena beberapa bulan lalu ada kunjungan wisatawan 2 bus di pagi hari dengan membuat kegaduhan sehingga penghuni jalan rukunan menutup akses masuk jalan rukunan itu. Dengan pendekatan yang baik maka Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta melakukan pendekatan sehingga pengurus jalan rukunan akhirnya membuka kembali jalan rukunan untuk dinikmati para wisatawan.
Pesan penulis untuk para pembaca yang akan berkunjung ke Jalan Rukunan atau Between Two Gates ingatlah bahwa area itu adalah area privat bukan area umum. Tolong bersikaplah dengan sopan saat berjalan melewati jalan rukunan itu, tersenyumlah jika kebetulan bertemu dengan pemilik rumah. Jika memungkinkan bertegur sapalah, setidaknya ucapkan: Permisi, Kulo nuwun, Spada. Dan jangan lupa membaca papan-papan informasi yang bertebaran di Jalan Rukunan. Dengan menjalankan saran ini maka kunjungan anda di Jalan Rukunan akan menjadi suatu kenangan manis, anda mendapat pengalaman mengenal keramahan orang Jawa penghuni Jalan Rukunan. Semoga kunjungan anda di Kotagede akan menuliskan kenangan indah.
