
Jika kita bicara Kotagede maka sesungguhnya kita bisa menceriterakan tentang banyak hal. Benar Kotagede disebut juga sebagai Kota Perak, tetapi banyak hal bisa kita pelajari dan nikmati di Kotagede. Kotagede adalah sebuah kota tua atau bisa disebut kota paling tua di daerah Jawa Tengah bagian selatan. Jika kita pelajari sejarah Kotagede, wilayah ini asalnya merupakan hutan Mentaok yang dihadiahkan kepada Ki Gede Pemanahan dari Sultan Hadiwijaya atas jasa Ki Gede Pemanahan mengalahkan Arya Penangsang dari Jipang.
Pada tahun 1556 dari Pajang Ki Gede Pemanahan bersama keluarganya dan para pendukungnya hijrah ke hutan Mentaok. Sesampai di Kotagede Ki Gede Pemanahan dan pendukungnya membuka hutan Mentaok ini menjadi pemukiman. Saat hutan Mentaok mulai berubah menjadi permukiman penduduk, perlahan tapi pasti hutan Mentaok itu menjadi sebuah kota dan disebut Kotagede. Perkembangan itu membuka daerah sekitarnya menjadi pemukiman pendukung penyangga kehidupan Kotagede untuk semakin maju.
Setelah pergantian pimpinan dari Ki Gede Pemanahan ke anaknya Senopati dan bersamaan surutnya pusat pemerintahan Pajang maka Kotagede semakin maju pesat. Senopati tidak memakai gelar Sultan sebagai kepala pemerintahan Mataram Islam, tetapi beliau memakai gelar Panembahan Senopati. Dengan gelar Panembahan yang berkonotasi pemimpin spiritual maka bisa diintrepretasikan sebagai pemimpin beliau tidak ingin menyaingi raja yang berkuasa di Pajang. Suatu gelar yang menggambarkan seorang pemimpin yang tidak hanya memimpin dari sisi duniawi, tapi menggambarkan pemimpin dalam sisi kehidupan rohani rakyatnya juga.
Dalam mengembangkan wilayah Kotagede, Panembahan Senopati menggunakan metode Catur Gatra Tunggal, Catur berarti empat dan Tunggal berarti satu kesatuan. Atau bisa diartikan pengembangan wilayah kekuasaan dengan menggunakan pendekatan pembangunan empat hal dalam satu kesatuan yang tak terpisah. Empat hal itu adalah Keraton, Alun-alun, Masjid, Pasar. Metode pambangunan Catur Gatra Tunggal bagaikan sebuah cara membangun wilayah dengan keraton sebagai pusat pemerintahan dan selalu dekat dengan rakyatnya (Alun-alun) dan membangun rakyat dari sisi lahir (pasar) dan bathinnya (rohani).
Keraton sebagai pusat pengendalian pemerintahan, dan disebelah utara keraton terdapat Alun-alun sebagai tempat komunikasi raja dengan rakyat, dalam era sekarang mungkin bisa dikategorikan sebagai media sosial dimana raja bisa berkomunikasi dengan rakyat dan rakyat bisa bertemu dengan sesama rakyat dalam kegiatan sosial. Di sebelah barat alun-al
un terdapat Masjid sebagai sarana raja mendidik rakyat untuk mengenal Tuhan Allah Sang Pencipta kehidupan ini. Sedang di sebelah utara alun-alun terdapat Pasar sebagai sarana raja menghidupkan roda ekonomi masyarakat.
Sistem pengelolaan dan pengembangan wilayah dengan metode Catur Gatra Tunggal ini bila dilacak dikembangkan sejak jaman kerajaan Demak, bahkan ada yang menyebutkan sejak era Majapahit. Dari Demak berlanjut ke era Pajang dan Kotagede berlanjut ke Kerta, Plered sehingga Kartosura, Surakarta dan Yogyakarta. Dan di masa Yogyakarta ini ada penambahan alun-alun Selatan disamping alun-alun utara.
Di Kotagede peninggalan Catur Gatra Tunggal ini masih bisa dicermati dan dilacak dari sisi lokasi ke 4 unsur tersebut yang masih tidak berubah. Berbeda penilaian dari sisi lokasi, jika dilihat dari sisi fungsi maka Catur Gatra Tunggal tersebut sudah berubah fungsinya. Pertama fungsi keraton Mataram pada abad 16 pada saat ini di abad 21 sudah berubah menjadi fungsi permukiman, demikian pula fungsi alun-alun sudah berubah menjadi perkampungan pula. Fungsi masjid sebagai tempat bersembahyang pada abad 16 sampai saat ini di abad 21 masih berlangsung dengan baik, demikian pula fungsi pasarnya.
