
Keraton
Unsur Keraton di jaman pemerintahan Panembahan Senopati abad 16, setelah 400 tahun pada saat ini sudah berubah menjadi permukiman. Dari sisi toponim permukiman ini dinamakan kampung Dalem yang merujuk pada bagian dalam keraton Panembahan Senopati. Situs yang masih bisa dilihat di kampung Dalem ini adalah Batu Gilang, Batu Gatheng, Batu Genthong. Saat ini ketiga benda cagar budaya ini disimpan di dalam suatu bangunan rumah kecil, jika ingin masuk kedalam bisa menghubungi juru kunci abdi dalem yang merawat dan tinggal di timur bangunan yang menyimpan 3 benda cagar budaya ini.

Pertama Batu Gilang adalah sebuah batu andesit hitam berbentuk persegi ukuran 200cm x 200cm dengan tinggi sekitar 20cm dan diberi fondasi alas sekitar 30cm. Disebut Batu Gilang karena permukaan batu andesit ini halus mengkilat, batu ini diperkirakan sebagai tempat singgasana Panembahan Senopati. Pada sisi timur pada Batu Gilang ini terdapat lekukan yang menurut ceriteranya adalah bekas benturan kepala Ki Ageng Mangir saat menghaturkan penghormatan kepada Panembahan Senopati. Jika benar bahwa Batu Gilang ini adalah lokasi singgasana Panembahan Senopati maka bisa dikatakan bahwa lokasi batu Gilang ini adalah pusat pemerintahan kerajaan Mataram jaman Panembahan Senopati.

Secara kronologis daerah Mangir adalah tanah perdikan dari bekas kerajaan Mojopahit yang telah terlebih dahulu berkembang sebelum kerajaan Mataram dibuka di hutan Mentaok. Jika Mataram menyerang langsung ke Mangir tentu kalah dari sisi kekuatan prajuritnya. Untuk itu diaturlah strategi untuk mengalahkan Ki Ageng mangir dengan cara halus. Atas nasehat Ki Juru Mertani, Panembahan Senopati mengirim anak perempuannya Roro Pembayun menyamar sebagai penari ledek dan berkelana menjajakan hiburan ledek sampai ke daerah Mangir. Saat menanggap Roro Pembayun menari ledek Ki Ageng Mangir jatuh hati dan menikahinya. Setelah Pembayun hamil maka Roro Pembayun berterus terang kepada Ki Ageng Mangir bahwa dia adalah puteri Panembahan Senopati.
Dengan jiwa kesatria Ki Ageng mangir mengantar Roro Pembayun pulang menghadap ayahandanya. Saat menghadap menghaturkan sembah bhakti seorang menantu kepada mertuanya itulah Panembahan Senopati membenturkan kepala Ki Ageng mangir pada Batu Gilang singgasana Panembahan Senopati. Sebuah cerita tragis terbunuhnya seorang menantu demi perluasan kekuasaan Mataram. Semoga kisah perluasan kekuasaan dengan mengorbankan seorang menantu berhenti sampai di sini dan tidak terulang dimanapun juga di muka bumi ini.
Kedua adalah 3 Batu Gatheng - Gatheng adalah sejenis permainan menggunakan benda berbentuk bulat yang dilempar-lempar. Dari sisi kisah mithologi 3 batu ini adalah batu yang digunakan untuk bermain gatheng oleh Raden Rangga anak Panembahan Senopati yang memiliki kesaktian luar biasa bakat alam sejak usia belia. Pada salah satu Batu Gatheng berwarna kekuningan ini terdapat beberapa lobang yang diinterpretasi sebagai bekas lobang karena jari-jari Raden Rangga yang menusuki batu itu. Fakta sebenarnya menurut ahli sejarah yaitu Prof. DR. Inajati Adrisijanti seorang Guru Besar Arkeologi dan pakar sejarah Islam di Nusantara dari Universitas Gadjah Mada mengatakan bahwa ketiga batu ini merupakan peluru meriam yang digunakan pada jaman Sultan Agung.

Apabila diamati dengan seksama maka batu andesit segi empat yang dipakai sebagai penyangga batu Gatheng ini adalah sebuah batu yoni yang kemungkinan besar sudah ada sejak jaman Mataram Hindu.
Ketiga adalah Batu Genthong yang ujudnya batu andesit diameter kurang lebih 60cm an dengan lobang di tengah yang bisa untuk menampung air. Menurut tutur yang berkembang di masyarakat Kotagede batu ini adalah padasan atau batu untuk menampung air guna keperluan wudhu yang digunakan oleh Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Giring sebelum melakukan sholat pada jaman Mataram. Dalam mithos yang beredar dikisahkan bahwa hanya dengan mengusap genthong ini maka muncul air di dalam Batu Genthong ini untuk keperluan bersuci.

