
Jika ternyata perak Kotagede yang dibuat pada masa Panembahan Senopati tidak bisa kita ketemukan bukti fisiknya, terus kira-kira sebenarnya pada masa kapan kerajinan perak Kotagede mulai berkembang di Kotagede? Bisa dibaca di sini
Jawabannya tentu bisa ada bermacam-macam versi jawaban. Untuk mendekati kebenaran tentu jawaban itu harus didukung fakta yang ada, misalnya diketemukannya perak yang dibikin pada masa tertentu dengan keterangan yang pasti.
Apa yang ditulis di sini bukan menyalahkan pendapat yang mengatakan bahwa perak Kotagede dimulai pada jaman Panembahan Senopati pada abad XVI, tetapi mengajak berpikir secara rasional bahwa suatu pendapat membutuhkan fakta untuk mendukungnya. Sampai saat ini belum diketemukan benda perak yang merupakan kerajinan perak Kotagede yang dibikin pada abad XVI. Jika suatu saat bisa diketemukan kerajinan perak yang dibuat pada masa pemerintahan Panembahan Senopati maka pendapat bahwa budaya kerajinan perak Kotagede dimulai sejak abad XVI akan meyakinkan generasi saat ini bahwa kerajinan perak Kotagede dimulai sejak era Panembahan Senopati.
Suatu saat penulis pernah mengikuti suatu Focus Grup Discussion di Kotagede dengan nara sumber seorang penggiat pariwisata Yogyakarta. Beliau berceritera bahwa kerajinan perak Kotagede dimulai pada jaman pemerintahan Panembahan Senopati karena Panembahan Senopati mempunyai banyak musuh dalam selimut. Dengan menggunakan piring dan sendok dari perak, Panembahan Senopati bisa mendeteksi jika makanan beliau diberi racun oleh musuh-musuh dalam selimutnya. Menurut penggiat pariwisata Yogyakarta itu jika ada racun dalam makanan yang disajikan kepada Panembahan Senopati maka piring yang digunakan akan berubah warnanya karena terkena racun dalam makanan yang disajikan.
Saat itu penulis menanyakan bukti piring perak yang digunakan pada jaman Panembahan Senopati itu apakah masih bisa kita temukan atau tersimpan di museum mana? Piring perak itu dihiasi dengan ukiran dengan design apa? Benarkah piring perak dapat mendeteksi racun makanan yang di taruh di piring itu? Penggiat pariwisata Yogyakarta itu tidak dapat menjawab, dan akhirnya beliau menjawab bahwa pernyataan budaya perak dimulai sejak jaman Panembahan Senopati karena piring perak digunakan untuk mendeteksi racun itu hanyalah bahasa guide untuk menarik wisatawan yang berkunjung ke Kotagede.
Benarkah alat makan yang dibikin dari perak bisa berubah warna karena racun?
Suatu saat penulis mendapat tamu dari Belanda yang berkunjung ke Salim Silver. Tamu dari Belanda yang sudah berusia itu ternyata mempunyai interes pada perak Kotagede. Pada kenyataannya sejarah perak Kotagede mempunyai kaitan dengan peran orang Belanda di masa penjajahan. Saat penulis menceriterakan mengenai sejarah kerajinan perak Kotagede menurut versi guide, bahwa perak bisa mendeteksi racun, dia menjelaskan memang ada kaitannya antara kesehatan dengan alat makan dari perak.
Dia menceriterakan di negara Belanda seseorang bisa mendeteksi kesehatannya dengan cara memakai sendok makan dari perak. Menurutnya jika seseorang menggunakan sendok perak setiap hari untuk makan, artinya dia memakai sendok yang digunakannya sendiri, tidak digunakan anggota keluarga lain di rumah yang sama. Jika tubuhnya mengalami perubahan metabolisme maka saliva di mulutnya akan ada perubahan. Dengan saliva yang berubah maka akan mempengaruhi warna sendok makan yang selalu dipakai. Artinya sendok makan perak akan bisa mendeteksi dalam waktu lama perubahan saliva karena adanya perubahan metabolisme tubuh pemakai sendok itu.
Dari dua pendapat di atas sepertinya lebih logis pendapat yang mengatakan bahwa alat makan (sendok) yang dibikin dari perak bisa membantu mendeteksi kesehatan tubuh pemakai sendok perak itu.
