
Jika kita merujuk pada tulisan saya di artikel ini dan dihubungkan dengan pendapat seorang pengusaha yang penulis temui pada tahun 2005 yang mengatakan bahwa pada tahun 1900 an hanya ada sekitar 4 perusahaan perak Kotagede yang melayani pesanan dari keluarga Kraton Yogyakarta, maka kita bisa simpulkan bahwa di Kotagede sebelum abad 19 an pengusaha perak Kotagede melayani pesanan keluarga Kraton Yogyakarta.
Menurut penelitian Van Mook, seorang Belanda penasehat urusan agraria untuk Sultan Yogyakarta dari tahun 1921 hingga 1925, pada tahun 1922 di Kotagede justru bisnis batik yang mendapat tempat pertama dalam memakmurkan masyarakat Kotagede. Pada tahun 1922, kota ini memiliki 211 pedagang grosir dan pengrajin ahli, sebelas persen di antaranya berdagang tekstil, batik, dan barang-barang terkait. Sembilan persen dipekerjakan sebagai pengrajin perak, sebagian besar membuat perhiasan. Van Mook menyatakan bahwa selama dua puluh tahun pertama abad ke-20, produksi dan perdagangan batik merupakan sumber pendapatan terpenting bagi penduduk Kotagede. Dekade-dekade ini memang dikenal sebagai 'zaman batik'. Dari Kotagede, para pedagang batik menyebar ke seluruh Jawa.
Pada tahun 1930-an, kerajinan batik di Kotagede sekali lagi dikalahkan oleh kerajinan perak. Dalam tesisnya tentang gerakan Islam Muhammadiyah di Kotagede, yang ditulis pada tahun 1983, Mitsuo Nakamura menggambarkan bagaimana banyak penduduk Kotagede yang lebih tua mengingat periode antara akhir tahun 1920-an dan akhir tahun 1930-an sebagai 'zaman perak'. Kerajinan perak berkembang pesat karena konvergensi sejumlah faktor: kehadiran modal, pengusaha, inovasi teknologi, dan pasar baru. Nakamura mengaitkan dua faktor pertama dengan berkembangnya industri batik pada tahun-tahun sebelumnya. Keberhasilan batik telah menciptakan sekelompok pedagang baru yang menginvestasikan uang dan pengetahuan mereka dalam kegiatan ekonomi lainnya, termasuk perdagangan perak. Periode perak dimulai ketika Belanda mulai menunjukkan minat serius pada perak tradisional Kotagede.
Jika kita telusuri perkembangan usaha perak Kotagede diketemukan kesimpulan bahwa usaha kerajinan perak Kotagede mengalami masa keemasan pada tahun 1930 sampai 1942. Pada tahun 2003 penulis yang pada saat itu menjadi Ketua Living Museum Kerajinan (LMK) Kotagede, bersama beberapa pengurus LMK Kotagede mengadakan penelitian kecil ke beberapa pengrajin perak yang pernah mengalami hidup di jaman Belanda. LMK Kotagede ini didirikan atas inisiatif beberapa budayawan Kotagede dan dibiayai oleh pemerintah Kota Yogyakarta, serta diresmikan oleh bapak walikota Hery Zudianto.

Dari wawancara dengan pengrajin sepuh yang bisa kita temui pada tahun 2004 yang bernama bapak Atmo Yuwono (almarhum), bisa kita peroleh keterangan bahwa pada jaman Belanda seorang pengrajin perak Kotagede bisa memperoleh pendapatan senilai Rp 2,5 per hari. Ketika kita tanyakan pada pengrajin itu dengan uang Rp 2,5 itu jika dibelikan beras akan mendapat berapa kg beras saat itu, beliau menjawab bahwa uang itu bisa mendapat 30 Kg beras. Andai kata dikurskan saat ini dimana harga 1 KG beras adalah Rp 15.000 per KG maka pendapatan pengrajin perak Kotagede saat itu per harinya adalah Rp 15.000 x 30 = Rp 450.000. Suatu nilai yang sangat tinggi dan menggambarkan tingkat ekonomi yang sangat layak bagi pengrajin perak.

Bahkan ada sebuah ungkapan kalimat yang umum ada di kotagede saat itu bahwa profesi pengrajin perak (pengukir perak) itu merupakan profesi idaman mertua di Kotagede saat itu. Sebuah catatan sosial ekonomi yang penting yang semestinya menjadikan kita semua yang hidup di masa kini menyadari dan bisa menganalisa kenapa seni kerajinan perak Kotagede pada masa antara tahun 1930 sampai tahun 1942 mengalami masa keemasan.
Kenapa kualitas seni kerajinan perak Kotagede menjadi menurun?
Menurut pengamatan penulis kualitas seni kerajinan perak Kotagede menurun karena penghargaan terhadap seni kerajinan Kotagede yang menurun. Pada jaman dulu sebuah karya perak Kotagede dijual dalam bentuk karya seni, pada saat pasar semakin luas, banyak pedagang masuk dan terjadinya persaingan harga yang tidak sehat dari para pedagang perak membuat mereka menurunkan harganya. Bahkan yang paling menyedihkan menurut penulis adalah ketika nilai jual suatu karya kerajinan perak Kotagede berdasarkan berat karya itu, dimana karya kerajinan perak dijual berdasar berat perak yang dibutuhkan, dimana faktor ongkos produksi tidak dinilai secara wajar. Saat itulah secara pelan nilai seni perak Kotagede akan menurun.
Daftar Pusaka:
Pienke W.H. Kal, Yogya Silver, KIT Publisher Tropen Museum, 2005
